Pengalaman Pertama Keliling Lombok Naik Mobil Sendiri, Ternyata Semudah Ini

|

Topproperti.com -

Pengalaman Pertama Keliling Lombok Naik Mobil Sendiri, Ternyata Semudah Ini

Kalau ada satu hal yang paling aku sesali dari beberapa perjalanan pertamaku ke luar kota, itu adalah kebiasaan bergantung pada transportasi orang lain. Taksi, travel sharing, tur paket semua itu terasa aman dan nyaman sampai kamu mulai sadar betapa banyak momen yang terlewat karena kamu tidak punya kendali atas kapan berhenti dan kapan lanjut.

Lombok mengubah kebiasaan itu. Bukan dengan cara yang dramatis tidak ada epiphany di bawah hujan deras atau percakapan inspiratif dengan orang asing di warung kopi. Tapi dengan cara yang lebih pelan dan lebih mengakar: pengalaman nyata, selama empat hari, di balik setir mobil sewaan di pulau yang baru pertama kali aku injak.

Ini cerita perjalanan itu. Bukan highlight reel yang sudah diedit rapi. Tapi cerita yang jujur termasuk bagian-bagian yang bikin aku ragu di awal, keputusan-keputusan yang terasa besar waktu diambil tapi ternyata mudah setelah dijalani, dan momen-momen kecil yang tidak akan pernah aku temukan kalau aku duduk diam di bangku belakang kendaraan orang lain.


Awalnya Ragu, Sangat Ragu

Aku bukan pengemudi yang tidak percaya diri. Di kota tempat tinggalku, aku nyetir hampir setiap hari. Macet, motor yang muncul dari kiri tanpa lampu sein, angkot yang berhenti sembarangan semua itu sudah jadi bagian dari ritme harian yang tidak lagi bikin stres.

Tapi menyetir di kota sendiri dan menyetir di pulau yang belum pernah dikunjungi adalah dua hal yang berbeda. Dan sebelum berangkat ke Lombok, ada beberapa pertanyaan yang terus muncul dan tidak mudah aku jawab sendiri.

Pertama soal kondisi jalan. Dari beberapa artikel yang aku baca sebelum berangkat, gambarannya cukup beragam ada yang bilang jalannya sudah bagus, ada yang masih menyebut beberapa rute yang perlu hati-hati ekstra, dan satu komentar di forum yang sampai sekarang masih aku ingat dengan jelas: "Hati-hati kalau mau ke Sembalun, tikungannya tajam dan jalannya sempit di beberapa titik."

Kedua soal navigasi. Aku tidak terlalu hapal karakteristik GPS di daerah yang belum pernah aku kunjungi. Apakah sinyal kuat? Apakah petanya akurat sampai ke jalan-jalan kecil? Apakah aku akan tersesat di persimpangan yang tidak ada papan namanya?

Ketiga dan ini yang paling mendasar soal apakah ini worth it dibanding ikut tur atau naik travel sharing. Lebih repot, lebih banyak tanggung jawab, dan kalau ada yang tidak beres di jalan, semua jadi urusanku sendiri.

Semua keraguan itu aku bawa sampai hari terakhir sebelum berangkat. Dan baru hilang sepenuhnya sekitar 30 menit setelah keluar dari area Bandara Internasional Lombok.


Keputusan yang Mengubah Segalanya

Seminggu sebelum keberangkatan, setelah cukup lama menimbang-nimbang, aku akhirnya putuskan untuk sewa mobil sendiri. Bukan keputusan yang diambil dengan mantap dari awal lebih ke keputusan yang lahir dari capeknya aku sendiri dengan ragu-ragu yang tidak kunjung selesai.

Aku mulai cari layanan rental yang bisa dipercaya. Dari beberapa nama yang muncul berulang kali di forum dan grup wisata Lombok, aku akhirnya sampai di Lepas Kunci Lombok. Namanya cukup sering disebut dengan nada positif oleh orang-orang yang kelihatannya bukan akun palsu — reviewer yang juga aktif berkomentar soal hal lain, bukan yang cuma muncul untuk kasih bintang lima lalu tidak terlihat lagi.

Aku hubungi mereka dan langsung tanya yang paling aku khawatirkan: kondisi jalan di beberapa rute yang aku rencanakan, terutama jalur menuju Sembalun dan kawasan Lombok Timur. Jawabannya tidak asal meyakinkan. Mereka jelaskan dengan jujur mana yang kondisinya sudah baik, mana yang perlu hati-hati, dan unit kendaraan apa yang paling sesuai untuk rute yang aku ceritakan.

Dari percakapan itu, keraguan aku mulai berkurang satu per satu. Bukan karena mereka berhasil menjual sesuatu ke aku, tapi karena cara mereka menjawab pertanyaan memberi kesan bahwa aku sedang bicara dengan orang yang memang tahu medan bukan sekadar operator booking yang bacain daftar harga.

Unit yang aku pesan adalah transmisi otomatis. Ini keputusan kedua yang ternyata sangat tepat tapi itu nanti.


Hari Pertama: Dari Bandara, Langsung Beda Rasanya

Penerbangan mendarat tepat waktu. Aku keluar dari pintu kedatangan dengan koper yang sudah keluar lebih dulu dari belt salah satu hal langka yang bikin pagi itu terasa seperti pertanda baik.

Mobilnya sudah ada di area yang sudah dikoordinasikan sebelumnya. Bersih, AC-nya langsung dingin waktu aku nyalakan, dan bensin sudah penuh. Tidak ada antrean, tidak ada negosiasi, tidak ada perlu nunggu driver lain yang belum datang.

Aku duduk sebentar di bangku pengemudi sebelum mulai jalan. Cek posisi spion, cek posisi setir, dan sebentar baca ulang notes soal rute hari pertama yang sudah aku tulis semalam. Tujuan: Kuta Lombok. Perjalanan sekitar 30 menit dari bandara.

Begitu mulai keluar dari area bandara dan masuk ke jalan raya, satu hal yang langsung aku rasakan adalah betapa berbedanya karakter lalu lintas Lombok dibanding kota besar. Tidak macet. Tidak padat. Motor dan mobil bergerak dengan irama yang lebih santai, persimpangan tidak penuh tekanan, dan jalan utamanya lebar dengan kondisi yang jauh lebih baik dari yang aku ekspektasikan.

Kekhawatiran pertama langsung runtuh.

Di tengah perjalanan menuju Kuta, aku sengaja ambil jalan yang sedikit memutar melewati ruas yang menurut GPS lebih panjang tapi melewati kawasan yang kelihatannya lebih menarik. Jalannya bagus, kanan kiri mulai berganti dari permukiman ke area yang lebih lapang, dan tiba-tiba di satu tikungan, laut biru muncul dari kejauhan di ujung jalan yang menurun.

Aku tidak merencanakan itu. Tapi itu terjadi karena aku yang pegang setir dan bebas ambil jalan mana saja.


Kuta Lombok: Tempat Duduk yang Bisa Ditinggal Kapanpun

Tiba di Kuta Lombok sekitar pukul sepuluh pagi. Pantainya tidak terlalu ramai di jam itu beberapa surfer sedang di air, satu dua pasangan jalan di tepi pantai, dan pedagang minuman kelapa baru mulai buka di beberapa titik.

Aku parkir dan duduk di pasir. Tidak ada tujuan khusus, tidak ada jadwal yang harus dipenuhi dalam sejam ke depan. Hanya duduk dan melihat ombak dari jarak yang cukup dekat untuk terdengar jelas tapi cukup jauh untuk tidak basah.

Satu jam lebih aku di sana. Sesuatu yang tidak akan bisa aku lakukan kalau ikut travel sharing yang jadwal pemberhentiannya biasanya tidak lebih dari 45 menit per spot.

Sebelum pergi, aku mampir ke warung kecil di sudut parkiran. Pesan es kelapa muda kelapa hijau yang langsung dibelah di depan mata, airnya dingin dan segar, dan daging kelapanya tipis dan lembut. Harganya tidak sampai sepuluh ribu. Aku minta tambahin gula merah cair yang ada di toples kecil di meja warung. Si ibu yang jaga warung ketawa sedikit tapi langsung kasih.

Momen sepele yang rasanya tetap diingat sampai sekarang.


Bukit Merese: Pelajaran Soal Datang Lebih Awal

Dari Kuta aku lanjut ke Bukit Merese. Jaraknya tidak jauh sekitar 10 menit dengan mobil dan karena masih siang, aku putuskan untuk naik sebentar sebelum panas benar-benar menyengat.

Jalan menuju area parkir ada satu tanjakan pendek yang sudutnya lumayan. Dengan transmisi matic, naik tanjakan ini terasa natural injak gas, mobil naik, tidak perlu drama soal kopling atau pilih gigi yang tepat. Itu momen pertama aku benar-benar berterima kasih atas keputusan pilih matic.

Di puncak Bukit Merese, pemandangannya seperti yang aku lihat di foto-foto sebelumnya tapi selalu berbeda rasanya ketika kamu melihat langsung. Hamparan savana yang melengkung ke arah laut, dua teluk terlihat dari sisi yang berbeda, dan angin yang cukup kencang untuk membuat rambut tidak bisa diatur.

Yang menarik adalah fakta bahwa di siang hari, spot ini cukup ramai. Rombongan demi rombongan naik dan turun secara bergantian, dan meski pemandangannya tetap indah, suasananya berbeda dari foto-foto yang biasanya diambil sore hari menjelang sunset.

Aku catat itu sebagai pelajaran: Bukit Merese terbaik dikunjungi sore, bukan siang. Dan karena aku yang mengatur jadwalku sendiri, aku bisa kembali ke sini keesokan harinya di waktu yang tepat tanpa harus minta izin sopir atau menyesuaikan dengan jadwal rombongan.


Tanjung Aan: Ketika Pantai Terasa Seperti Milik Sendiri

Pagi hari kedua, aku berangkat dari penginapan pukul tujuh kurang. Tujuan: Tanjung Aan, sebelum destinasi ini ramai.

Ini strategi yang baru aku terapkan setelah pelajaran dari Bukit Merese kemarin. Dengan mobil sendiri, aku tidak perlu menunggu semua orang di rombongan siap. Aku sendiri, jadwal aku sendiri, dan pukul tujuh pagi adalah jam yang paling bisa aku nikmati tanpa gangguan.

Sampai di Tanjung Aan sekitar pukul setengah delapan. Parkiran masih kosong. Hanya ada satu motor yang sepertinya milik petugas kebersihan yang sedang menyapu jalan setapak menuju pantai.

Pantainya dan ini yang paling susah dijelaskan tanpa terdengar berlebihan terasa seperti milik sendiri untuk sekitar 45 menit pertama. Pasir putih yang halus di sebagian pantai dan berbutir kemerahan di bagian lain, air laut yang tenang dengan gradasi warna dari tosca ke biru tua ke biru gelap makin ke tengah, dan suara hanya dari angin dan ombak kecil yang menyentuh pantai bergantian.

Tidak ada yang menggangguku. Tidak ada deadline untuk pergi. Aku duduk di sana sampai pengunjung lain mulai berdatangan sekitar pukul sembilan, dan itu sudah lebih dari cukup.

Perjalanan pulang dari Tanjung Aan ke penginapan, aku sengaja ambil rute yang berbeda dari yang kemarin. Melewati beberapa desa kecil yang jalannya menyempit di beberapa titik, dengan rumah-rumah yang halamannya dipenuhi tanaman, dan sesekali ada warga yang menyapa dari depan rumah dengan senyum yang tidak dibuat-buat.

Itu Lombok yang jarang difoto tapi selalu diingat.


Hari Ketiga: Sembalun dan Semua yang Aku Khawatirkan Sebelumnya

Ini hari yang paling banyak menduduki pikiranku sebelum berangkat. Rute ke Sembalun dengan semua cerita soal jalannya yang berliku dan menantang adalah ujian sesungguhnya dari keputusan sewa mobil sendiri.

Aku berangkat dari Mataram pukul setengah tujuh pagi. Perjalanan ke Sembalun membutuhkan waktu sekitar dua setengah hingga tiga jam, dan aku mau punya cukup waktu di sana tanpa harus terburu-buru pulang.

Satu jam pertama perjalanan melewati kawasan Lombok Tengah dan mulai masuk ke Lombok Timur. Jalannya masih sangat nyaman dua jalur, mulus, dan pemandangannya sudah mulai berubah dari permukiman ke persawahan luas yang di beberapa titik tampak seperti karpet hijau berlapis-lapis.

Sekitar satu setengah jam dari Mataram, karakter jalannya mulai berubah. Mulai menanjak, mulai berkelok, dan lebar jalannya menyempit di beberapa ruas. Di sinilah aku mulai benar-benar fokus ke jalan bukan lagi menikmati pemandangan sambil nyetir santai, tapi benar-benar hadir dan waspada.

Dan jujurnya? Tidak seseram yang aku bayangkan.

Tikungannya memang tajam di beberapa titik, tapi visibilitasnya cukup baik tidak ada tikungan buta yang tiba-tiba. Jalannya memang sempit di beberapa ruas, tapi masih cukup untuk berpapasan dengan kendaraan dari arah berlawanan kalau keduanya sedikit melambat. Dan tanjakan yang paling terjal yang sudah aku baca di banyak komentar forum ternyata masih sangat bisa ditangani oleh kendaraan matic dalam kondisi yang baik.

Aku yakin kalau aku pakai manual, ceritanya akan berbeda. Tapi dengan matic, tanjakan itu tinggal soal pilih waktu yang tepat untuk akselerasi dan tidak panik di tengah jalan.

Di satu tikungan sekitar 45 menit sebelum Sembalun, Rinjani tiba-tiba muncul dari balik bukit. Besar, mengisi hampir seluruh bidang pandang ke depan, dengan puncaknya yang diselimuti awan tipis di bagian atas.

Aku injak rem tanpa sadar. Berdiri di pinggir jalan beberapa menit. Tidak ada yang lain di sana saat itu hanya jalan sepi, satu mobil yang terparkir dengan mesin mati, dan gunung yang sama sekali tidak peduli apakah ada yang melihatnya atau tidak.


Sembalun: Lebih dari Sekadar Pintu Masuk Rinjani

Banyak orang ke Sembalun dengan satu tujuan: mendaki Rinjani. Tapi Sembalun sendiri, bahkan tanpa mendaki, sudah sangat worth dikunjungi.

Lembahnya dikelilingi perbukitan dengan Rinjani sebagai latar belakang yang tidak pernah bosan untuk dilihat dari sudut manapun. Hamparan ladang bawang merah yang menjadi komoditas terkenal kawasan ini membentuk petak-petak warna yang berubah tergantung musim tanam ada yang hijau muda, ada yang sudah kuning kecoklatan siap panen, ada yang baru diolah dan masih berwarna tanah gelap.

Aku habiskan hampir tiga jam di Sembalun. Naik ke Bukit Selong yang tidak butuh tenaga besar tapi pemandangannya dari atas luar biasa, mampir ke warung lokal untuk makan siang dengan menu sederhana yang rasanya tidak sederhana sama sekali nasi putih, tempe goreng, dan sambal bawang yang pedasnya bukan main dan duduk lama di satu spot dengan pemandangan Rinjani yang tidak terhalang apapun.

Perjalanan pulang dari Sembalun aku lakukan dengan santai, berhenti beberapa kali di titik-titik yang pemandangannya bagus. Tidak ada yang menunggu, tidak ada jadwal yang harus dikejar. Dan itu, lebih dari destinasinya sendiri, adalah hal yang paling aku syukuri dari seluruh perjalanan ini.


Hari Keempat: Senggigi dan Pelajaran Terakhir

Hari terakhir aku arahkan ke barat Senggigi. Bukan karena belum pernah dengar ceritanya, tapi karena aku mau tutup perjalanan ini dengan momen yang lebih santai setelah dua hari sebelumnya yang cukup menguras energi.

Senggigi pagi hari, sebelum kawasan ini ramai, adalah versi terbaiknya. Pantainya bersih dari jejak ramai, pedagang baru mulai buka, dan cahaya pagi dari arah timur menyentuh permukaan air dari sudut yang membuat warnanya terlihat seperti campuran perak dan biru muda.

Aku jalan kaki di sepanjang pantai hampir satu jam. Tidak foto-foto, tidak scroll ponsel. Hanya jalan dan melihat.

Di satu warung kopi kecil yang baru buka, aku mampir dan pesan kopi hitam Lombok. Pahit, pekat, dan ada sisa butiran kopi di dasar cangkir yang sudah jadi tanda khas cara penyajian tradisionalnya. Si bapak yang jaga warung duduk di kursi sebelah dan mulai ngobrol soal cuaca, soal ramainya Lombok belakangan ini, soal cucunya yang katanya mau masuk sekolah menengah tahun ini.

Obrolan yang tidak ada hubungannya dengan wisata. Tapi justru itu yang membuat Senggigi pagi itu terasa sangat berkesan.


Yang Aku Pelajari dari Empat Hari Ini

Kalau harus merangkum pengalaman empat hari keliling Lombok dengan mobil sendiri, ada beberapa hal yang akan selalu aku ingat dan selalu aku sampaikan ke siapapun yang bertanya:

Persiapan yang tepat menghilangkan sebagian besar kekhawatiran. Hampir semua ketakutanku sebelum berangkat soal jalan, soal navigasi, soal kemampuan diri sendiri terbukti jauh lebih kecil dari yang aku bayangkan. Bukan karena kondisinya memang mudah, tapi karena aku pergi dengan kendaraan yang tepat dari penyedia yang bisa dipercaya.

Transmisi matic bukan kemewahan, itu strategi. Untuk medan Lombok yang bervariasi dari pantai datar sampai jalur pegunungan Sembalun transmisi otomatis membuat keseluruhan pengalaman berkendara jauh lebih menyenangkan dan jauh lebih aman untuk pengemudi yang tidak terlalu familiar dengan medan baru.

Momen terbaik hampir selalu terjadi di luar itinerary. Es kelapa di warung Kuta, obrolan dengan bapak penjaga warung kopi di Senggigi, berdiri diam di pinggir jalan dengan Rinjani di depan tidak ada dari itu yang ada di rencana perjalananku. Semua terjadi karena aku bebas bergerak dengan caraku sendiri.

Penyedia rental yang tepat itu menentukan segalanya. Layanan sewa mobil Lombok dari Lepas Kunci Lombok yang aku gunakan bukan hanya menyediakan kendaraan mereka menyediakan informasi yang aku butuhkan untuk berkendara dengan percaya diri di pulau yang baru pertama kali aku kunjungi. Dan itu nilainya jauh melebihi harga sewa hariannya.


Untuk Kamu yang Masih Ragu

Aku tahu ada yang baca tulisan ini dengan perasaan yang sama seperti yang aku rasakan beberapa minggu sebelum berangkat mau coba sewa mobil sendiri di Lombok, tapi masih ada kekhawatiran yang belum bisa dijawab.

Aku tidak akan bilang "tidak ada yang perlu dikhawatirkan" karena itu tidak jujur. Ada hal-hal yang memang perlu dipersiapkan dengan serius. Tapi aku bisa bilang dengan jujur bahwa dari semua hal yang aku khawatirkan sebelum berangkat, hampir semuanya ternyata jauh lebih bisa dihandle dari yang aku bayangkan.

Kuncinya bukan pada seberapa berani kamu. Kuncinya pada seberapa baik kamu mempersiapkan diri termasuk memilih layanan rental mobil Lombok yang dari awal sudah memberikan informasi yang jujur dan kendaraan yang kondisinya sesuai dengan yang dijanjikan.

Lombok sudah menunggumu. Dan percayakanpadaku pulau ini jauh lebih mudah dijelajahi sendiri dari yang pernah kamu bayangkan. Kamu hanya perlu berani mengambil keputusan pertamanya.

 


Related Posts